Cari

standbuku

ada untuk dirimu

Kategori

i: boekoe

Lekra Tak Membakar Buku

lekra-tak-membakar-buku

Judul: Lekra Tak Membakar Buku
Penulis: Muhidin M. Dahlan, Rhoma Dwi Aria Yuliantri
Penerbit: i: boekoe
Dimensi:  15 x 24 cm; 584 hlm; hard cover.
Harga: Rp 250.000

Lembaga Kebudayaan Rakyat atau Lekra adalah nisan kebudayaan yang disenyapkan eksistensinya selama puluhan tahun lamanya. Aktivitas mereka yang bergemuruh dalam periode 1950-1965 seakan hilang tanpa jejak. Yang ada hanyalah deret ukur dosa politik kebudayaan mereka dalam menegakkan prinsip-prinsip yang mereka yakini sebagai kebenaran.

Buku ini merupakan ”buku putih” yang menjelaskan ”apa adanya” kerja-kerja kreatif yang dihasilkan oleh para pekerja kebudayaan Lekra dengan seluruh aliansi ideologisnya, termasuk dengan Partai Komunis Indonesia (PKI). Buku ini mencakup liputan menyeluruh yang diriset dari sekira 15 ribu artikel (ketoprak, wayang, ludruk, reog), seni tari, seni rupa, musik, film, sastra, buku, dan sikap-sikap kebudayaan secara umum. Continue reading “Lekra Tak Membakar Buku”

Para Penggila Buku: Seratus Catatan di Balik Buku

 

6518051

Judul: Para Penggila Buku; Seratus Catatan di Balik Buku
Penulis: Diana AV – Muhidin M. Dahlan
Penerbit: i: boekoe
Dimensi: 667 hlm; hard cover
Harga: Rp 250.000

“Kalau kita membuka hati untuk buku,
niscaya ia akan membuka isinya untuk kita”
(Taufik Rahzen)

Kami adalah dua orang yang mencintai buku dan meletakkan pilihan hidup pada buku. Pergulatan dengan buku mengantarkan kami pada satu kesimpulan: Buku terus berevolusi. Dan sesuai dengan tugasnya sebagai pencatat laku jaman, ia meninggalkan banyak catatan perjalanan.
Continue reading “Para Penggila Buku: Seratus Catatan di Balik Buku”

Inilah Esai.

Inilah esai

Judul: Inilah Esai.
Penulis: Muhidin M. Dahlan
Penerbit: i:boekoe
Dimensi: 14 x 21 cm; 192 hlm.
Harga: Rp 50.000

Esai adalah cerminan, meditasi, percobaan dalam pengung­kapan gagasan yang diekspresikan secara licin dengan bahasa yang “lentur”, kata Montaigne. Sesuatu yang sifatnya longgar, kata esais Emha Ainun Nadjib.

“Esai itu bukan puisi. Akan tetapi esai tidak diperkenankan untuk hadir tanpa rasa poetika. Esai bukan cerita pendek, bukan novel, bukan reportoar teater, namun esai diharuskan bercerita, diwajibkan mengekspresikan suasana, itupun cerita dan suasana harus merupakan kandungan yang implisit, yang tersirat, yang sa­mar, sebab kalau tidak: ia dituduh sebagai puisi atau cerita pendek atau novel atau reportoar teater,” lanjut Cak Nun. Continue reading “Inilah Esai.”

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

Atas ↑