“Cerita yang menarik adalah cerita yang berjalan.” Begitulah yang dikatakan Mas Yayan dalam salah satu kesempatan ketika teman-teman dan saya bertanya kepada beliau perihal teknik menulis. “Hindari menulis gosip,” lanjutnya, “Perhatikan detail. Tulis apa yang indra kalian rasakan.” Saya teringat petuah Mas Yayan tersebut tidak berselang lama setelah saya menuntaskan novel  dengan kover tiga siluet manusia tengah berlari di padang gurun dengan latar langit menjelang malam. Saya rasa, novel tersebut mengikat semuanya.

Entahlah, barangkali karena sejak awal saya sudah yakin bahwa novel ini akan sangat bagus sehingga apa pun yang tertulis pasti akan terasa bagus (keyakinan yang bukan tanpa dasar, karena saya sudah pernah membaca kumpulan cerita yang ditulis oleh si penulis maupun catatan perjalanannya dan saya suka dengan gaya berceritanya maupun gagasan-gagasannya dan bahkan saya menyukai cara beliau menuliskan status di salah satu media sosial) atau memang demikian kenyataannya.

Raden Mandasia Si Pencuri Daging Sapi berkisah tentang perjalanan Sungu Lembu bersama Raden Mandasia ke Gerbang Agung. Alasan perjalanan itu sangat mulia—paling tidak bagi Raden Mandasia—yaitu mencegah perang besar yang bakal terjadi; sementara bagi Sungu Lembu, alasan melakukan perjalan itu pun tak kalah luhur: menggelindingkan kepala Watugunung yang telah membuat kehidupannya, juga kehidupan orang-orang yang dikasihnya, menderita.

Begitulah.

Inti novel ini adalah pembalasan dendam. Seorang pria muda yang merasa hidupnya telah hancur ingin melampiaskan kemarahan kepada seorang yang menjadi dalang kesengsaraannya. Begitu saja. Kalian bisa menemukan cerita semacam ini di buku-buku yang lain. Dan kalian tentu yang lebih tahu buku-buku apa saja itu. Akan tetapi, saya bisa katakan: ada hal-hal lain yang tidak akan kalian temukan dalam buku-buku tersebut. Dan salah satunya adalah detail.

Penulis tidak segan dan merasa sia-sia menuliskan bagian-bagian sapi yang sampai menghabisakan dua paragraf panjang atau bahkan menyebutkan segala jenis tumbuhan dari mulai yang beracun sampai yang bisa dikonsumsi atau menyebutkan jenis-jenis burung yang hidup di kolong langit atau membagikan resep masakan yang menerbitkan liur. Juga tindakan-tindakan yang dilakukan para tokoh—tidak ada yang sia-sia. Semua memiliki motif yang jelas. Tidak ada adegan “tiba-tiba” atau “kok ini gini, ya? Padahal kan tadi …”

Begitulah.

Saya juga menyukai humor-humonya. Juga karakter-karakternya. Juga kalimat-kalimatnya.

Baru dalam buku ini saya menemukan kematian dituliskan dengan lucu, seperti ketika Ayah si tokoh utama mati setelah bertarung habis-habisan melawan ikan lele di sungai atau saat anggota kapal memberitahu bahwa baru saja perompak kapal yang hidup berkurang satu karena sudah terlebih dulu dihabisi ketika sedang pingsan atau ketika ada seorang utusan yang nekat melompat ke lautan ketika rumah ikan-ikan tersebut sedang bergolak hebat dan kemudian langsung disambut mulut ikan paus. Juga hukuman-hukuman yang dijatuhkan kepada si calon mati. Coba bayangkan saja, bagaimana rasanya direbus hidup-hidup … dengan api sedang! Meski ada juga kematian-kematian lain yang membuat haru.

Dan karakter-karakternya yang langsung terasa karib, karena tidak melulu hitam maupun putih saja. Seperti misal, si tokoh utama, Sungu Lembu, yang sungguh keterlaluan menggelikannya. Mengumpat sepanjang waktu dan susah betul mengingat dialognya tanpa diselingi umpatan di dalamnya. Meski demikian, nyatanya dia baik hati juga—tidak ingin menghabisi musuh yang sudah kalah. Pun Loki Tua yang tak kalah menjengkelkan, yang sampai akhir perjalanan, Sungu Lembu tak juga beroleh masakan andalan si koki meski hanya sebiji sawi. Dan Raden Mandasia yang berpembawaan tenang. Dan Nyai Manggis yang dewasa dan keibuan. Dan si utusan tuhan yang mau tak mau mengingatkan saya ke kisah salah seorang Rasul.

Begitulah.

Membaca Raden Mandasia si Pencuri Daging Sapi mau tidak mau membuat saya mengingat berbagai cerita yang pernah saya baca dan pada saat yang sama juga membuat saya sadar bahwa saya kurang banyak membaca dan juga menyadarkan saya bahwa ingatan saya tidak baik-baik amat. Seperti misalnya Teka-Teki Putri Tabassum (saya ingat pernah membaca teka-teka semacam itu, tetapi sekeras apa pun saya mencoba mengingatnya, saya tetap lupa di mana). Juga kisah hidup Dewi Sinta.

Dan entahlah, saya pun seolah bisa merasakan emosi Sungu Lembu ketika membaca kisahnya dan barangkali itu karena tempo berceritanya yang diatur sedemikian rupa. Misalnya, cerita berjalan cepat dan waktu berlalu begitu saja ketika Sungu melakukan petualangan karena memang bukankah demikian seharusnya? Dan cerita berjalan lambat ketika si Sungu Lembu merasa goyah. Apa yang dilihatnya, didengarnya, seolah hanya berupa potongan-potongan yang tidak sempurna dan terasa datar.

Dan bahkan saya sampai lupa mencari pesan moral dalam kisah ini karena saya lebih menikmati membaca, alih-alih mencari.

Begitulah.

p_20160515_103646_1.jpg

Iklan