Apa yang kamu pikirkan tentang cinta? Mengapa cinta tak pernah tepat waktu? Lantas apa yang akan kamu perbuat ketika cintamu tiba pada waktu yang tak lagi tepat?

Novel ini berkisah tentang pergolakan pemikiran, goncangan batin, pencarian cinta, dan upaya untuk menyembuhkan diri dari penyakit yang diderita sang tokoh utama. Ia terus pergi dan melangkah, berharap semua luka yang dideritanya dapat kering oleh jarak yang tertempuh itu–di mana akhirnya sang tokoh menemukan dan merenungkan banyak hal.

Sebuah kisah yang mengajak anda untuk membumi, bahwa hidup acapkali bukanlah soal apa yang anda inginkan, melainkan apa yang anda miliki. Sebuah novel yang memaklumkan bahwa pada akhirnya hidup ini sangat berharga, dan oleh karena itu layak untuk dijalani.

***

Puthut meramu kisah sang tokoh dalam novel ini dengan begitu apik dan renyah. Pergolakan pemikiran serta goncangan batin mengenai tujuan hidup, harapan, cita-cita, serta cinta. Seorang tokoh yang melakukan perjalanan panjang menebas jarak untuk menemukan jati diri dan menyembuhkannya dari penyakit yang selalu mengganggu hidupnya.

Seorang penulis yang hidup di malam hari dan terlelap ketika subuh menjelang. Mengurung diri di kamar, berjalan ke kamar mandi, menjerang air untuk segelas kopi, ke warnet untuk membalas pesan-pesan elektronik. Dan, terkadang sebuah perjalanan. Perjalanan ke kota lain, perjalan menapaki jejak bayang-bayang yang mempertemukannya dengan banyak pengalaman serta kisah cinta yang membuat hatinya patah. Mungkin.

Ada bab yang tiba-tiba menggelitik. Bab yang berjudul ‘Berkas Kenangan’. Sebab setiap orang pasti memiliki kenangan yang semakin ingin kamu lupakan, ia justru semakin liar menari-nari dalam kepalamu.

Kenangan. Sebuah dunia yang aneh. Dunia itu seperti sepasukan pemberontak yang sangat bengal atas sebuah kekuasaan yang bernama kehendak. Bahkan tetap sebagai pemberontak yang mampu menandingi kecerdikan kekuasaan yang lain, alam pikir. Ia bahkan tetap saja sebagai sepasukan pemberontak yang culas, yang terus merecoki kekuasaan kesadaran.

Sialnya lagi, setiap badai kenangan itu turun, ia hanya mempunyai satu kepastian: rasa sedih yang menyesakkan.

Kenangan dan kesedihan. Dua bersaudara yang aku tidak pernah tahu sampai detik ini, yang manakah yang lebih tua, dan yang mana yang lebih muda.

Kisah dalam novel ini tidak hanya tentang cinta. Tapi juga hidup. Pada bab ‘Surga-surga Kecil’ ditemukan sebuah pelajaran hidup si tokoh dengan bersama beberapa orang hebat dalam hidupnya di beberapa tempat. Semisal ada surga kecil di Bandung, Salatiga, Pacitan, Sleman, dan Banyuwangi.

Puthut sangat detail mendeskripsikan tiap-tiap tokoh, tempat, dan kejadian dalam novel ini. Saya merasa terbawa dalam konflik batin yang dialami oleh si tokoh. Betapa tak mudahnya ia menangani segala pergolakan-pergolakan dan hidup yang harus tetap dijalaninya. Ada pada bab-bab tertentu yang saya merasa sangat detail hingga saya merasa cukup untuk membacanya sekilas saja agar merasa tidak bosan. Tapi kembali lagi, keseluruhan novel ini mengingatkanmu bahwa hidup itu terlalu berharga, maka jalanilah tanpa perlu kau sia-siakan.

Hingga sampai pada di bab akhir, saya baru mengerti mengapa novel ini diberi judul ‘Cinta Tak Pernah Tepat Waktu’, karena memang begitulah adanya. Lebih kepada pergolakan batin sang tokoh yang selalu berusaha dan bertahap kembali menyusun benteng pertahanannya ketika hal-hal yang sama kembali datang dan mewarnai hidupnya.

Temukanlah arti sebuah cinta yang tak pernah tepat waktu dalam novel ini. Selamat membaca:))

Cinta Tak Pernah Tepat Waktu
Oleh: Puthut EA
Yogyakarta: INSISTPress, maret 2009
213 halaman
ISBN: 978-602-8384-18-6

Path 2014-07-28 20-37

*ulasan ini merupakan hasil salin-tempel dari blog Feti Habsari. Tentu atas izin beliau.