Oleh; Lihn

Dunia ini kejam. Dan akan semakin terlihat kejam jika kau menggunakan cara pandang anak-anak. Mereka terlalu polos, terlalu jujur, dan sangat tidak cocok jika jiwa mereka yang putih itu harus tersiksa demi melihat kebobrokan dunia. Bisa-bisa mereka akan menangis seperti Dill kala melihat persidangan Tom Robinson; ketakutan seperti Scout saat menyadari hal buruk apa yang bisa saja terjadi beberapa saat lalu—ketika Sang Ayah dikelilingi anggota keluarga Cunningham di depan penjara; marah seperti Jem saat mendengar hasil sidang yang memenangkan salah satu pihak lantaran pihak lain dianggap sampah—meminjam istilah Homicide—yang layak dilenyapkan.

Meski demikian, dunia ini sebetulnya tidak terlalu buruk juga. Karena pada dasarnya, di dalam jiwa manusia terdapat belas kasih yang nyata, yang sayangnya seringkali harus dipendam demi alasan-alasan yang bagi saya sebetulnya hanyalah bentuk pembenaran terhadap diri sendiri. Kehormatan—baik menyangkut diri atau kelompok, ketakutan akan hilangnya rasa aman dan nyaman, perasaan bahwa diri sendiri lebih baik daripada orang lain. Hal-hal yang pada akhirnya hanya menciptakan prasangka. Dan apa yang lebih buruk dari sesuatu bernama prasangka? Prasangkalah yang menggerakan seseorang untuk berbuat kejam terhadap orang lain—membuat sebagian besar warga Maycomb County mengecam tindakan Atticus Finch kala dirinya membela seorang Niga bernama Tom Robinson yang dituduh telah melakukan perbuatan keji; pemerkosaan terhadap seorang wanita kulit putih.

Dan ketika saya menyebutkan dunia ini sebetulnya tidak buruk juga, itu karena ada orang-orang seperti Atticus Finch, Hakim Taylor, Heck Tate, dan orang-orang yang sepemahaman dengan mereka, yang sayangnya, suaranya kemudian teredam lantaran teriakan orang-orang yang menuhankan prasangka.

To Kill a Mockingbird, bagi saya tidak hanya berbicara tentang rasialisme semacam itu. Lebih jauh lagi; buku ini juga berbicara tentang orang dewasa yang merasa lebih tahu daripada anak-anak, dan berdasarkan alasan itu, merasa berhak memerintah, memilihkan apa yang baik dan tidak baik bagi anak-anak, dan kemudian mengeluh dan bersikap seolah-olah dunia akan segera kiamat saat anak-anak berjalan keluar dari jalur yang mereka anggap tepat. Ironisnya, tindakan semacam itu juga berlaku di lingkungan pendidikan, seperti ketika Miss Caroline menyuruh Scout agar memberitahu Ayahnya supaya berhenti melakukan apa yang merupakan kewajiban seorang guru karena tindakannya itu hanya akan mengganggu caranya mengajar. Semata-mata, karena Scout sudah bisa membaca sejak hari pertama masuk sekolah. Sementara dalam lingkungan keluarga, tindakan semacam itu saya kira sudah jamak.

Ialah Bibi Alexandra, yang selalu merasa tahu segala hal lebih baik dari siapa pun, yang kemudian memaksakan pengetahuannya itu ke dalam kepala polos kedua keponakannya, Scout dan Jem—dan sesekali juga memaksakan pemikirannya itu ke dalam batok kepala para tetangga. Tak ayal, keributan selalu terjadi ketika Scout berontak. Meskipun Ayahnya, Atticus Finch, selalu berada di sisinya dan pernah mengatakan bahwa dia tak memusingkan akan menjadi apa anaknya kelak selama si anak mampu bertanggung jawab dan teruskan saja apa yang menjadi kesukaannya selama ini, untuk beberapa kasus, akan berdiri berseberangan dengannya, seperti saat Scout berkata-kata kasar kepada Bibinya. Dan Atticus pun seringkali membiarkan adiknya mengatur anak-anaknya—bahkan sesekali menghukumnya. Selama yang dilakukan adiknya masih terbilang wajar, ia hanya akan diam dan mengawasi.

Berbeda dengan sikap Scout yang gampang meledak, Jem boleh dibilang lebih mampu mengendalikan diri. Ia sangat meneladani sikap Ayahnya, dan berusaha sebisa mungkin untuk tidak membuatnya kecewa. Akan tetapi, sebagaimana tupai yang sekali waktu terjatuh saat melompat, ia pun pernah benar-benar marah dan kemudian bertindak sesuatu yang menurut Atticus kelewat batas. Meskipun Atticus tahu bahwa yang membuat Jem benar-benar marah adalah karena ada seseorang yang berkata sangat buruk mengenai dirinya, itu tidak mengubah apa pun. Jem harus mempertanggungjawabkan perbuatannya.

Banyak hal menarik lain yang bisa diambil dari sosok Atticus, menyangkut urusan mengajari anak-anak. Salah satunya yang saya ingat, adalah jangan merendahkan kemampuan mereka. Jika mereka bertanya, jawablah.

Anak-anak adalah anak-anak, tetapi mereka tahu kalau kau menghindar, mereka tahu lebih cepat daripada orang dewasa, dan menghindar hanya membingungkan mereka (hlm. 175).

Atticus menurut saya juga merupakan sosok ayah yang selow, terbukti dari sikapnya yang membiarkan Scout dan Jem memanggilnya hanya dengan “Atticus”, alih-alih “Ayah”—suatu tindakan yang bagi sebagian besar warga Maycomb dikatakan perilaku yang tidak beradab. Ia pun tidak mengajari anak-anaknya dengan kekerasan yang kaku, tidak juga dengan kelembutan yang berlebihan, melainkan dengan ketegasan. Ia membimbing, bukan mengatur. Sesekali membiarkan anak-anaknya merasakan kepahitan jika dirasa itu memang diperlukan. Ia menyiapkan anak-anaknya untuk mampu berdiri tegak di dunia yang bisa dengan sangat kejam meruntuhkan keyakinan—memperlihatkan kepada mereka bahwa dunia itu tidak melulu hitam dan putih, dan membiarkan mereka memahaminya dengan caranya masing-masing. Dan yang paling baik dari semua, adalah Atticus melakukan apa yang diajarkannya, dengan cara membela Tom Robinson. Sementara orang-orang terpelajar menjadikan urusan menyangkut hak yang sama bagi setiap orang ke dalam mata pelajaran belaka. Lucunya, orang-orang terpelajar itu terlalu bangga dengan pemahaman mereka, sampai-sampai buta dengan kenyataan yang terjadi di sekelilingnya. Kenyataan semacam itu, pada akhirnya, sedikit-banyak memengaruhi cara pandang Jem melihat dunia; sementara bagi Scout, karena masih terlalu muda, ia belum cukup mampu untuk menarik kesimpulan.

“ …. Tidak, Jem. Kukira hanya ada satu jenis manusia. Manusia.”

“Pikirku juga begitu,” akhirnya dia berkata. “ketika aku seusiamu. Kalau hanya ada satu jenis manusia, mengapa mereka tidak bisa rukun? Kalau mereka semua sama, mengapa merepotkan diri untuk saling membenci? …” (hlm. 458)

wpid-20150825180328.jpg

Iklan