oleh: Lihn

Jangan menilai sebuah buku dari kovernya. (Agaknya, saya harus menambahkan sedikit kalimat barusan) Dan jangan pula menilai kualitas karya dari kuantitas lembarnya.

Jujur, ketika pertama kali melihat buku berkover kuning dengan gambar seorang pria yang membawa nampan pada masing-masing tangannya, dengan keju pada tangan kanan; sementara apel(?) pada tangan kiri, dan dengan judul yang teramat singkat, Kaas, kemudian diikuti dengan nama si penulis, Willem Elsschot, di bawah judul, di antara tumpukkan buku-buku obral, saya sama sekali tidak berniat membacanya. Dan rasanya saya akan tetap tidak membacanya sampai suatu ketika—untuk alasan yang saya sendiri telah lupa—timbul minat saya untuk membacanya.
Buku ini tidak terlalu tebal. Hanya 178 halaman dengan dimensi yang minimalis. Dan, bila ingatan saya tidak berkhianat, saya hanya perlu kurang dari 3 jam untuk menyelesaikannya. Bagi saya, waktu 3 jam sudah terbilang cepat, bila dibandingkan ketika saya membaca buku lain yang jumlah halamannya kurang dari jumlah halaman buku ini, tetapi dengan dimensi yang biasa.

Barangkali bab yang pendek. Barangkali cara bercerita yang tidak sampai membuat kening saya berkerut. Barangkali cerita yang dituliskan membuat saya terperangkap dalam rasa penasaran. Atau barangkali semua yang saya tuliskan barusan adalah alasan yang membuat saya tertawa puas sambil menyumpahi si penulis karena telah menulis buku sebagus ini, begitu saya selesai membacanya. Saya sendiri tidak tahu. Saya sendiri tidak yakin. Akan tetapi, begitulah kenyataannya.

“Akhirnya kutulis lagi sesuatu untukmu, karena ada masalah besar, yang sesungguhnya terjadi akibat perbuatan Miijner Van Schoonbeke.”

Dimulai dengan kalimat yang membuat saya seakan-akan adalah sahabat si tokoh yang hendak diberi tahu sebuah rahasia besar, Elsschot kemudian seolah merangkul saya dan mengajak saya melihat kehidupan tokoh rekaannya, Frans Laarmans.

Frans Laarmans pegawai biasa. Karena merasa kariernya sudah mandek, ia pun mencoba berbisnis keju. Ia tidak ingin kehilangan pekerjaan utamanya, sehingga saat memulai usaha keju ini, ia cuti sakit dari kantor.
Namun berdagang ternyata tidak mudah. Kejunya tidak laku.

Yang saya sukai dari buku ini, adalah betapa Elsschot paham dengan cara berpikir orang-orang seperti Laarmans. Dalam hal ini, adalah saya. Atau barangkali Anda? Seseorang yang merasa bahwa dirinya telah melakukan segala cara untuk mewujudkan keinginannya. Padahal, dalam kenyataannya, ia tidak melakukan apa pun. Ia-hanya-merasa-telah-melakukan-semuanya. Ia selalu menunggu segalanya sempurna. Segalanya harus sempurna bahkan sebelum segala sesuatu itu berjalan. Ia memandang dengan pongah kepada siapa saja. Menganggap dirinya lebih baik daripada orang lain. Dan benar-benar menganggap ia bisa lebih sukses daripada orang lain bila saja ia mau. Tidak suka diatur. Dan, meskipun mau diatur, semata-mata karena dia tidak ingin menyakiti si pengatur, dan segala yang dianjurkan si pengatur tidaklah berarti apa-apa bagi kesuksesannya kelak. Akan tetapi, hidup bukanlah tentang apa yang dipikirkan, melainkan apa yang dilakukan. Dan hidup juga bukan tentang diri sendiri, melainkan tentang orang lain. Sahabat. Saudara. Keluarga.

Begitulah. Itulah Frans Laarmans. Itulah saya. Akan tetapi, saya tidak ingin lagi menjadi Laarmans. Bagaimana dengan Anda?

Judul: Kaas
Penulis: Willem ElsschotAlih bahasa: Jugiarie Sugiarto
Diterbitkan oleh: Gramedia Pustaka Utama, Mei, 2010
Jumlah halaman: 176 hlm.

Iklan