Oleh: Alan Schweik

 

Dewasa ini, cuaca panas begitu sering dijumpai di pelosok negeri. Hari ini, kita sudah berada di pertengahan bulan September. Jangankan hujan, bahkan mendung pun tak tampak di langit. Kering di mana-mana. Di layar televisi, satu dua berita mulai bermunculan; tentang masyarakat di daerah ini dan daerah itu yang tengah mengadakan shalat meminta hujan di lapangan-lapangan luas. Bahkan, di salah satu daerah di pulau Sumatra, beredar sebuah pesan berantai yang isinya menyuruh setiap rumah untuk menjemur seember air garam di depan rumah, antara pukul 11-13 siang, demi mengharapkan air garam yang dijemur itu akan turun kembali menjadi hujan. Harapan akan hujan ini kian hari kian kuat lantaran serangan asap dari negara api yang ingin menghukum manusia-manusia yang tidak berdosa ataupun patut.

Sementara itu, di belahan dunia yang lain, di Ilheus, kota kecil di negara Brasil sana, hujan turun berkepanjangan. Hujan itu, seperti di Indonesia, tadinya begitu ditunggu-tunggu setelah kemarau panjang yang melanda perkebunan kakao milik para kolonel. Hujan itu pun dipanggil dengan upacara keagaaman yang dipimpin oleh Pastor Basilio dan Cecilio. Hujan itu datang, seluruh penduduk bersyukur, bergembira, berpesta. Satu hari, dua hari, seminggu, dua minggu, tetapi hujan itu tidak pula reda. Kegembiraan mulai luruh, kesabaran menunggu hujan reda perlahan ditumbuhi lumut. Satu per satu kemudian merasa bahwa hujan itu bukan lagi berkah yang diturunkan Tuhan untuk penduduk Ilheus, melainkan bentuk hukuman yang lain.

Akan tetapi, Ilheus bukanlah planet Venus di dalam cerpen Ray Bradbury yang berjudul Long Rain, hujan di Ilheus akhirnya berhenti.

Pada suatu subuh, Kolonel Manuel Jaguar terbangun dari tidurnya dalam kesunyian, sebentuk kedamaian yang selama ini ia rindukan. Tidak ada suara ribut hujan yang mematuki atap rumah. Tidak ada suara air mengucur dari talang. Langit terang ketika lelaki tua itu memutuskan untuk keluar. Bibirnya tersenyum. Panenan kakaonya selamat. Kolonel Manuel Jaguar dengan jumawa pergi ke kota, menyonsong sinar matahari pagi pertama setelah berminggu-minggu menghilang di balik awan hitam.

Begitulah Jorge Amado membuka kisahnya. Dengan sebuah hari yang baru. Dengan sinar matahari pertama seusai hujan berkepanjangan. Untuk menghangatkan jiwa-jiwa penduduk Ilheus yang berkerak lumut karena terlalu lama hidup dalam lembab, air hujan, dingin yang membekukan hati mereka. Sebuah hari baru, harapan akan cahaya di langit timur. Kehidupan baru untuk generasi berikutnya.

Kehidupan baru macam apa? Kehidupan baru untuk Ilheus yang sedang menggeliat bangun dari tidur panjangnya. Ilheus yang membangun jalur bus pertamanya untuk menghubungkan kota itu dengan Itabuna, kota terdekat dengan Ilheus. Lalu ada pengerukan gundukan pasir yang akan membuka akses ekspor kakao langsung dari Ilheus ke Eropa. Juga tentang luruhnya nilai-nilai lama yang tak terelakkan. Perubahan itu pasti, siapa yang tidak bisa beradaptasi dengan perubahan maka ia akan dilumat perubahan. Ilhues adalah kota kecil, yang tengah bersolek.

Dan jantung kota kecil itu adalah bar Vesuvius. Bar milik Najib, seorang lelaki Suriah yang telah menjadi orang Brasil. Tempat berkumpulnya hampir seluruh penduduk Ilheus. Tempat di mana kabar berita terbaru berkumpul, dibagikan dan didiskusikan bersama. Oh, tentu saja aku ingat tempat seperti itu. Dulu, tempat seperti itu di kampungku berupa gardu siskamling, di mana setiap selesai maghrib orang-orang akan duduk-duduk, bergunjing, bertukar tawa, berbaur; membicarakan apa saja, politik, pendatang baru, penyakit, dan kejadian-kejadian remeh serta konyol untuk ditertawakan. Semua tempat pasti memiliki tempat seperti itu.

Dan kabar terbaru yang sampai di bar itu, yang langsung menggemparkan seluruh pengunjung bar adalah perihal Kolonel Jesuino Mendonca yang membunuh istri dan dokter gigi selingkuhannya. Pada masa-masa yang lalu, hal itu adalah kewajiban, hal yang harus dilakukan oleh seorang suami yang dikhianati oleh seorang istri; membunuh istri dan lelaki selingkuhan istrinya. Sebuah aturan tak tertulis yang juga diamini oleh seluruh penduduk Ilheus, juga para istri terhormat. Hal itu, bagi mereka, digunakan sebagai alat untuk menjaga moral serta sopan santun masyarakat Ilheus.

Itulah hukuman bagi istri yang tidak setia kepada suami. Hukuman selain dari itu akan dihakimi dengan kejam oleh seluruh penduduk. Hal itu terjadi pada seorang lelaki baik hati yang tidak membunuh istrinya yang tertangkap basah berselingkuh dengan laki-laki lain. Lelaki itu bermaksud menghukum lelaki yang telah berani menggoda istrinya itu dengan seluruh sifat menyebalkan si istri yang tak tertanggungkan olehnya. Ia menyerahkan istrinya kepada lelaki selingkuhan itu. Yang kemudian terjadi, seluruh penduduk mengucilkan lelaki itu, mengejeknya karena sikap pengecutnya, menyebutnya lembu lembek, tidak seorangpun yang mau bicara dengannya, hingga akhirnya lelaki itu terusir dari Ilheus, pergi dan tak pernah kembali lagi.

Lalu di manakah posisi Gabriela yang menjadi judul buku ini? Gabriela berdiri bersama Malvina, Gloria dan Shinazinha yang menjadi simbol perubahan sosial di Ilheus. Malvina digambarkan sebagai simbol pemberontak, yang tidak mau menikah dengan lelaki yang tidak ia inginkan. Malvina adalah perempuan muda pembaca buku, yang menentang ayahnya, lalu kabur untuk menolak takdirnya: menjadi istri seorang pemilik perkebunan kakao.

Sementara Shinazinha adalah istri dari Kolonel Jesuino Mendonca, yang dibunuh karena berselingkuh. Gloria dan Gabriela di satu sisi adalah simbol dari memudarnya kebiasaan purba itu. Di sisi lain, Gabriela adalah sosok yang sama dengan Malvina dengan cara yang lain. Mulanya, Gabriela adalah perempuan bukan siapa-siapa, tidak mempunyai apa apa. Namun, ketika ia pada akhirnya menjadi seorang perempuan terhormat yang bisa mempunyai apa saja, ia memilih untuk tidak mempunyai apa-apa. Ia tidak butuh apa-apa, buat apa? Terlalu banyak barang. Ia tidak bahagia. Ia membenci sepatunya, yang merupakan simbol, pembeda antara seorang perempuan terhormat dengan perempuan bukan siapa-siapa. Gabriela lebih suka bertelanjang kaki, atau memakai sandal. Bukan sepatu, sepatu menyakiti kakinya. Ia tidak butuh apa-apa, buat apa? Terlalu banyak barang.

Tapi, perubahan kota itu terutama digerakkan oleh persaingan Kolonel Ramiro Bastos dan Mundinho Falcao di arena politik. Kolonel Ramiro Bastos adalah pribumi, sesepuh yang dahulu membangun Ilheus menjadi wilayah kakao yang kaya dan kota yang cantik, yang menuntut hormat dari lelaki muda pendatang seperti Mundinho Falcao. ‘Orang luar, apa gerangan yang dicarinya di Ilheus? Dia tak pernah kehilangan apa-apa di sini.’ Kata Kolonel Ramiro Bastos merujuk pada Mundinho Falcao. Tetapi Mundinho masih muda, penuh gagasan, Mundinho adalah masa depan. Sementara Ramiro Bastos adalah mantan bandit, yang akan dengan ringan menggunakan pistol dan senapan, dan banyak pemilik perkebunan besar berdiri di belakangnya, bandit juga, sama sepertinya.

Selain itu, Jorge Amado juga menulis tentang koran pertama di Ilheus. Tidak lupa, dia juga membangun sebuah perpustakaan di tengah kota Ilheus yang mayoritas penduduknya masih buta huruf. Bagi saya, Jorge telah berhasil membangun sebuah dunia yang komplit, sebuah kisah menakjubkan tentang sebuah kota dengan nilai-nilai yang mulai pudar, tentang karakter-karakter hebat seperti Gabriela, Malvina, Joao Fulgencio, Amancio Leal, Dora … dan sederet tokoh lain. Buku ini jelas merupakan sebuah buku yang layak untuk dibaca.

Judul              : Gabriela Cengkih dan Kayu Manis
Penulis           : Jorge Amado
Penerbit         : Serambi
Penerjemah    : Ingrid Nimpoeno
Editor             : Moh. Sidik Nugraha
Tahun terbit     : Desember 2014, cetakan 1
Halaman          : 659 halaman
ISBN              : 978-602-290-023-8

20150207230918

*ulasan ini merupakan hasil salin-tempel dari blog si penulis, yang tentunya dengan izin si penulis.

Iklan