oleh: Lihn

Cinta dan perkelaminan adalah dua hal yang bisa dipisahkan. Paling tidak, bagi Danny van Dieven—juga beberapa temannya—yang menganggap aktifitas semacam itu hanyalah bentuk senang-senang belaka. Tanpa perlu dilandasi rasa cinta, hanya bentuk pelepasan hasrat alami mereka. Dan, di antara semuanya, Danny-lah yang paling parah. Ia bisa melakukannya kepada siapa saja. Tak peduli kepada sahabat istrinya sendiri. Atau keponakan sahabatnya. Tentu, atas kesadaran bersama.

Ada semacam kepuasan tersendiri bila ia bisa melakukannya dengan orang lain—kepuasan asing yang tak bisa didapatkan dari istrinya. Padahal istrinya sendiri selalu bisa membuatnya merasa menjadi laki-laki sejati. Barangkali kepuasan semacam itulah yang mendorongnya untuk terus dan terus berpetualangan. Seringkali ia muak pada dirinya sendiri, tetapi hanya berakhir sampai di situ. Kegilaan yang dilakukannya itu semacam candu, sejenak disesali, dan kemudian diulangi. Bahkan, ketika istrinya divonis terkena kangker payudara.

Entahlah. Dengan kegilaan semacam itu, seharusnya saya (sebagai pembaca) marah pada Danny, tetapi nyatanya saya tidak benar-benar bisa marah kepadanya. Semua tindakan yang dilakukan terasa alami. Segala keruwetan yang berkelindan di seklilingnyalah yang membuatnya berlaku demikian. Muda. Dipenuhi dengan gairah menyala-nyala. Dan disisinya, adalah istri yang tak lagi membara. Meski demikian, saya tidak membenarkan apa yang dilakukannya. Tetapi, adakah seseorang yang bisa mengalahkan kegilaan semacam itu?

Saya rasa ada, tetapi orang itu bukan Danny.

Barangkali, kesetiaan untuk terus berada di sisi sang istri—lepas dari petualangan-petualangan yang ia rahasiakan—yang membuat saya tidak bisa benar-benar marah kepadanya. Ia menemani si istri saat menjalani kemoterapi dan pengobatan-pengobatan lainnya. Terus ada di dekat istrinya saat rambut si istri perlahan mulai rontok—dan bahkan ia sendiri yang menggunduli rambut si istri atas saran si istri. Dan melakukan banyak hal romantis kala istrinya terbujur sekarat. Dan ketika melakukan semua itulah, ia sadar bahwa ia memang mencintai istrinya.