oleh: Alan Schweik

IMG_20150505_220029-2

Judul              : The Virgin Suicide
Penulis           : Jeffrey Euginides
Penerbit         : Dastan Books
Alih bahasa    : Rien Chaerani
Tahun terbit    : Oktober 2013, cetakan keenam
ISBN               : 978-602-247-131-8

Kali pertama membaca buku ini, sejujurnya saya tak mengharapkan apapun. Judul buku ini, The Virgin suicide, mau tak mau menanamkan stereotipe bahwa ini merupakan buku thriler. Dan buku bergenre thriler bukan sebuah buku yang biasanya memicu gairah membaca saya. Namun buku ini secara tepat telah membangkitkan minat saya, sejak paragraf pertama.

Jeffrey Euginides menggunakan teknik pembocoran kejadian/akhir cerita. Namun, hal itu tidak lantas membuat cerita kemudian menjadi mudah ditebak. Bukan dengan misteri-misteri atau fakta yang menghanyutkan yang membuat pembaca terkejut hingga berkata cihuy! Tidak! Jeffrey memikat saya lewat kalimat-kalimat tentang hal-hal sederhana yang membuat saya terbawa oleh tulisannya hingga ke akhir cerita, yang berkali-kali dibocorkan Jeffrey di awal atau tengah cerita. Begitupun dengan pemilihan sudut pandang narator dalam buku ini, alih-alih menyebut diri sebagai aku, Jeffrey memilih kata ganti kami, yang menjaga ketidaktahuan pembaca hingga sampai pada efek bertanya-tanya—sebenarnya apa yang terjadi hingga terjadi peristiwa-peristiwa bunuh diri itu, bayangkan, bukan satu, tetapi lima orang—dan yang lebih penting adalah cara Jeffrey menyampaikan apa yang narator ketahui, melalui semacam laporan penyelidikan, dan kemampuan Jeffrey mengontrol apa yang diketahui narator dan pembaca.

Yang pertama menarik perhatian saya adalah peristiwa bunuh diri itu sendiri. Selain diskripsi ketika Cecilia ditemukan mandi air hangat yang melarutkan darahnya dari urat nadinya, membuat saya berkali-kali mengusap pergelangan tangan saya sendiri, seolah-olah luka itu menganga di sana. Saya dengan sendirinya melihat hal itu—bunuh diri—adalah bentuk dari protes anak-anak gadis keluarga Lisbon kepada orang tua mereka. Mrs. Lisbon mungkin percaya bisa membuat anak-anaknya menjadi anak yang baik-baik saja dengan memperlakukan putri-putrinya dengan segala aturan dan keinginannya. Tetapi, putri-putri itu rupanya memiliki keinginan sendiri. Kendatipun tidak secara gamblang Jeffrey mengatakan sebab musabab keputusan gadis-gadis Lisbon untuk bunuh diri, satu-satunya hal yang terlintas dalam kepala saya adalah demikian. Sebenarnya, cara yang diambil oleh gadis-gadis keluarga Lisbon, sayangnya, menurut saya agak terlihat sebagai sebuah tindakan putus asa. betapa sungguh indah bila—mungkin—mereka menerima tawaran para anak lelaki yang sudah menyiapkan sebuah mobil untuk pelarian mereka. Tapi tentu saja, dengan segala keterbatasan pengetahuan tentang apa yang mereka alami, tidak adil rasanya bila saya memutuskan untuk memandang cara mereka menentang ibunya sebagai hal yang agak egois, menyedihkan dan suram. Seolah tak ada jalan keluar dari keadaan mereka. Tapi, tetap saja itu hak mereka, bagaimana cara mereka menunjukkan keinginan mereka; seolah berkata kepada orang tuanya ‘mereka bisa dihancurkan, tetapi tidak bisa ditaklukkan.’ Pada akhirnya orang tua mereka yang takluk oleh protes mereka. Mereka lah yang memiliki kuasa atas apa yang harus/bisa mereka perbuat atas dirinya sendiri.

Yang menyedihkan dari peristiwa itu adalah bagaimana masyarakat menarik diri, seolah menutup mata akan hal itu; terutama ketika hal itu seharusnya bisa dicegah, setidaknya setelah peringatan itu diikrarkan oleh Cecilia; peristiwa bunuh diri yang awal mula. Mungkin mereka merasa bahwa itu urusan pribadi keluarga Lisbon, dan merasa sebagai orang luar yang tidak berhak mengurusi kehidupan orang lain. Tapi ketika menyangkut kehidupan lima jiwa gadis remaja yang juga memiliki hak untuk hidup seperti manusia lain di manapun ia berada, campur tangan itu saya kira perlu. Saya memahami kebingungan narator yang ingin menyelamatkan gadis-gadis itu namun tidak tahu apa yang harus mereka lakukan. Mereka(narator itu) masih remaja, berbeda halnya dengan orang tua narator yang setidaknya bisa memberikan pengayoman—paling tidak atap dan makanan—untuk gadis-gadis Lisbon itu. Saat narator akhirnya mengambil keputusan itu, mereka terlambat. Sekali lagi, ketidakpedulian pada akhirnya menjadi mesin pembunuh yang efektif.

Yang juga menarik bagi saya adalah adegan ketika gadis-gadis Lisbon berlari dan melindungi pohon elm di depan rumah mereka ketika petugas dari kota hendak menebang pohon elm itu dengan alasan bahwa pohon elm itu sudah terjangkit wabah kumbang yang jika tidak segera ditebang akan membuat pohon lain tertular. Kenyataan bahwa gadis-gadis itu yang notabene sebenarnya tidak memiliki kehidupannya sendiri masih peduli dengan hidup sebatang pohon yang bisa dikatakan sekarat. ‘biarkan ia mati dengan tenang’ itu yang saya baca dari adegan itu. Mana yang lebih baik, membiarkan pohon makhluk itu mati dengan tenang atau membunuh pohon makhluk itu agar pohon makhluk lain bisa hidup lebih lama? Hal lain yang menyentil saya adalah ketika lingkungan masyarakat merasa penebangan pohon elm itu menjadi hal yang wajar. Tidakkah kita juga begitu? Masih merasa sedih ketika melihat sebatang pohon mati karena dibunuh/terbunuh oleh ulah manusia adalah barang langka. Bagi kita, sebatang pohon ditebang kini merupakan hal sepele, untuk alasan apapun: demi keselamatan manusia di jalan, demi pembangunan tempat manusia tinggal, melindungi pondasi bangunan yang terancam tumbuh kembang akar sebatang pohon, agar daunnya tidak mengotori tanah, dan alasan lain yang mungkin bisa dicari manusia.

The virgin suicide, buat saya, bukan sekadar buku tentang bunuh diri; bukan novel thriler seperti bayangan saya pada awalnya. Saya puas dengan buku ini, di goodreads saya menyematkan 5 bintang untuk buku ini. Nah barangkali menemukan buku ini di bazar atau lapak dengan diskon, tak ada ruginya membawa buku ini pulang. Bahkan seandainya dijual dengan harga normal pun.

 

*ulasan ini diambil dari blog si penulis yang bisa kalian lihat di sini. Tentu dengan izin si penulis.