Oleh: Lihn

Saya percaya bahwa semua agama itu baik dan tujuan agama tidak lain adalah untuk menyebarkan kebaikan—termasuk jika cara untuk menyebarkan kebaikan itu adalah dengan menumpahkan darah melalui peperangan atau yang lain-lain. Namun, seiring waktu, tujuan itu acapkali melenceng dan berganti menjadi tujuan pribadi. Dan yang tersisa dari agama hanyalah namanya saja.

Entahlah. Sebetulnya banyak hal lain—dan lebih baik—yang bisa dituliskan selain kalimat sinis di atas mengenai buku berjudul “Dari Puncak Andalusia”, yang ditulis oleh Dr. Tariq Suwaidan. Non-fiksi. Saya lupa kapan kali terakhir membaca buku sejenis itu—dan rasanya tidak buruk juga.

Ketika saya menuliskan “banyak hal lain”, yang saya maksud adalah para pejuang Islam dan bagaimana perjuangannya; apa-apa saja yang telah umat Muslim capai di Andalusia; bagaimana kesejahteraan warga yang kotanya telah ditaklukkan dan lain-lain dan lain-lain. Akan tetapi, barangkali karena saya yang terlalu sinis memandang dunia, membuat saya tidak tergerak barang sedikitpun untuk menuliskan apa yang saya sebutkan barusan. Namun, seperti yang dikatakan si penulis di awal, bahwa yang sering kita—atau lebih tepat bila saya menuliskannya “saya”—dengar adalah sejarah bangsa-bangsa Barat, seperti misalnya kisah pelayaran Colombus, dll., dan memang, bila saya mencoba mengingatnya lagi, apa-apa saja yang sudah saya pelajari semasa sekolah dulu, ingatan saya selalu mentok di hadapan nama-nama hebat itu. Tidak ada satu nama pejuang Islam pun yang mampu saya ingat. Jangankan nama-nama pejuang Islam setelah Nabi Muhammad SAW wafat, nama-nama pejuang yang berperan penting dalam perang-perang yang beliau pimpin saja saya lupa. Paling-paling nama keempat sahabat. Dan itu baru nama para pejuang, belum para pemikir dan ahli-ahli yang lain. Maka, adalah sesuatu yang menggembirakan buat saya pribadi karena telah membaca buku ini.

Nah, kembali soal apa yang saya tulis dalam paragraf pertama.

Bisa dikatakan, itulah yang saya pikirkan setelah membaca buku ini. Agama hanyalah kedok untuk membunuh siap pun yang membuat takut—takut dibunuh terlebih dahulu, takut diturunkan dari tahta, takut kehilangan semua kesenangan dunia dan segala macam ketakutan yang lain. Seorang anak melakukan kudeta terhadap Ayahnya; seorang Paman mengkudeta keponakannya; seorang kakak mengkudeta adiknya. Semua itu dilakukan demi harta, kekuasan, dan segala kesenangan duniawi. Dan itu terjadi di sebuah negara Islam, di tengah para ahli ibadah dan ahli yang lain. Bahkan, yang paling parah seorang raja Islam sampai meminta bantuan kepada raja Kristen demi menumpas raja Islam yang lain, atau lebih rela menyerahkan kota yang dipimpinnya kepada Kristen demi dirinya dan hartanya selamat.

Saya tahu hal itu tidak berhubungan dengan agama. Ketika seseorang melakukan kesalahan, kita tidak boleh langsung menyalahkan agama yang dianutnya. Dan jika memang harus menyalahkan, maka ialah orang itu yang harus disalahkan. Bukan agamanya. Tetapi lihatlah saat ini. Agama yang seringkali menjadi kambing hitam. Padahal, bagaimana sih cara kita mengetahui agama yang dianut seseorang selain dari yang apa kita lihat? Sementara kita tahu, agama itu letaknya di hati dan tidak seorangpun yang bisa membaca isi hati. Dunia ini sudah terlalu penuh dengan orang-orang munafik. Percayalah.

Itu pendapat pribadi saya. Dari Puncak Andalusia tidak berbicara seperti itu. Buku itu lebih menekankan perbedaan antara sikap umat Muslim ketika menguasai kota dengan sikap Kristen ketika menguasai kota. Tidak ada gereja yang dibakar. Kaum Kristen boleh hidup sebagaimana biasanya dan tak ada tekanan dari seorang Muslim pun. Mereka hidup secara layak dan dihormati. Juga tidak ada pemaksaan agar masuk ke dalam Islam. Kaum Kristen sebaliknya. Meski tidak secara dalam mengupas hal itu, selain hanya dalam beberapa kalimat, namun akan sering kita temui pemaparan semacam itu di dalam buku ini: perbandingan.

Juga, pengungkapan fakta yang—dikatakan oleh si penulis—sering diselewangkan oleh para penulis Barat. Atau bahkan tidak diceritakan sama sekali. Padahal cerita yang dikubur itu merupakan kepingan yang penting. Sampai titik ini, saya jadi ingat apa yang dikatakan Orwell melalui bukunya, 1984, yang jika tidak salah seperti ini: sejarah adalah milik para pemenang. Ya, pemenang. Karena pada akhirnya, Islam runtuh di Andalusia setelah sebelumnya mampu mendirikan kekhalifahan selama kurang-lebih 3 abad (saya kurang yakin dengan angkanya; mohon dibenarkan jika saya salah).

Apa penyebab keruntuhan itu?

Seperti yang sudah saya tuliskan di atas “yang tersisa dari agama hanyalah nama”. Dan itulah yang terjadi. Kemunduran iman yang sangat parah. Kecintaan berlebih terhadap dunia. Sifat mencari kesenagan sendiri. Semua itulah penyebab keruntuhan Islam di sana. Itu jika dilihat dengan mata manusia; sementara jika dilihat melalui agama; segala yang sudah berada di puncak, perlahan akan turun, alias semuanya sudah ditentukan, alias takdir.

images