Orang-orang cenderung tertarik dengan hal-hal yang tidak mereka tahu. Barangkali karena dalam ketidaktahuan itu mereka bebas berimajinasi seliar mungkin— imajinasi yang menurut mereka paling masuk akal—untuk kemudian membahasnya bersama orang lain. Dan setelahnya, hanya tergantung soal siapa yang mempu bercerita lebih meyakinkan daripada siapa.

Gagasan semacam itulah yang muncul selepas saya membaca karya Mario Vargas Llosa, “Siapa Pembunuh Palomino Molero?”, yang diterjemahkan dengan baik oleh Ronny Agustinus dan diterbitkan oleh Komodo Books.

Cerita dibuka dengan penemuan mayat seorang tentara, Palomino Bolero, bocah ceking berkulit sawo matang yang semasa hidupnya dikenal karena memiliki suara yang sangat indah, tergantung dengan posisi absurd yang lebih menyerupai orang-orangan sawah di sebuah pohon khurnub tua di daerah padang berbatu oleh seorang bocah gembala yang sebentar kemudian berinisiatif untuk melaporkannya kepada polisi desa, yang untuk menuju ke sana si bocah harus menempuh perjalanan sepanjang satu jam jalan kaki. Sebagaimana cepatnya angin laut Tarala bertiup, begitu juga dengan cepatnya berita itu menyebar ke seluruh pelosok desa. Dan para warga, bahkan sebelum polisi mampu memecahkan kasus ini, telah menetapkan sendiri siapa pelakunya—orang gedean. Lebih daripada itu, para warga pun telah berasumsi bahwa kasus ini tidak akan pernah selesai, pembunuh sebenarnya tidak akan pernah tertangkap—sekali lagi—karena ini menyangkut orang gedean.

Letnan Silva dan Lituma, dua polisi yang berusaha memecahkan kasus ini mulai melakukan penyelidikan demi penyelidikan hingga kemudian mereka menemukan kebenaran. Tetapi apa yang terjadi kemudian? Inilah bagian terbaik dari kisah ini, yang sebaiknya tidak saya ceritakan.

*

Ketika memutuskan untuk membaca buku ini, saya memang tidak terlalu berharap akan membaca kisah detektif ala-ala Sir Arthur Conan Doyle, Dan Brown, Agatha Crhistie, atau penulis-penulis dengan tema yang sama lainnya. Hal itu, semata-mata karena penghargaan yang diperoleh si penulis sendiri: Pemenang Nobel Sastra 2010. Maka saya tidak merasa kecewa saat tidak merasakan emosi yang sama seperti halnya saat saya membaca buku-buku detektif karya penulis yang sudah saya sebut di atas. Akan tetapi, lebih daripada itu, saya merasakan kesenangan yang lain; saya senang dengan cara Llosa menggambarkan reaksi orang-orang menyangkut kasus tersebut. Para warga bergunjing bahwa kepolisian telah disuap sehingga kasus ini tidak akan pernah selesai. Mereka tidak tahu, hal itu terjadi karena pihak tentara tidak mau bekerja sama. Yang terus mereka lakukan hanyalah bergunjing dan bergunjing dan menduga-duga, karena sebetulnya warga sendiri takut terhadap tentara dan tidak sekalipun berani berurusan dengan mereka. Atau dengan kata lain, mereka telah berhenti percaya kepada pemerintahan. Dan puncaknya, adalah ketika Letnan Silva dan Lituma pada akhirnya sanggup memecahkan kasus ini … mereka, para warga dan juga pemerintah, memberikan hadiah yang “sepantasnya” kepada si Letnan dan anak buahnya.

Apa hanya itu? Tentu saja tidak. Karena dalam buku ini, Llosa juga berbicara tentang cinta, yang sebetulnya merupakan penyebab semua keruwetan yang harus dialami tokoh-tokohnya.
Tokoh-tokoh Llosa (dalam hal ini, adalah Letnan Silva dan Palomino Molero) adalah orang-orang yang mengagungkan cinta. Bagaimana tidak? Palomino, yang sebenarnya tidak kena wajib militer karena merupakan anak satu-satunya yang dimiliki oleh Dona Asunta, lebih memilih untuk mendaftar secara sukarela ke dalam ketentaraan setelah dirinya dibuat mabuk cinta setengah mati oleh Alicia Mindreau, anak Kolonel Mindreau. Padahal, Alicia sendiri acuh tak acuh terhadap dirinya. Namun, dasar sudah dimabuk cinta, Palomino akhirnya melakukan berbagai cara agar sang pujaan hati mau menerimanya, salah satunya yaitu dengan menyanyikan lagu untuknya setiap malam.

Dan kemudian, Letnan Silva. Ia adalah seorang yang memiliki cara pandang yang unik; jatuh cinta kepada seorang perempuan gendut, yang lebih cocok menjadi ibunya alih-alih kekasihnya, yang juga merupakan istri seorang nelayan. Sebagaimana Palomino yang melakukan bermacam cara demi mendapatkan pujaan hatinya, pun demikian dengan yang dilakukan Letnan Silva—bahkan yang dilakukan Letnan Silva lebih parah; mendobrak paksa kamar Dona Adriana kala suaminya melaut, untuk menunjukkan betapa ia mencintainya, yang berakhir dengan runtuhnya kebanggaan dirinya.

*

Di atas, saya sudah menuliskan bahwa kisah detektif ini tidak seperti kisah detektif pada umumnya—lebih tepatnya: yang sudah saya baca. Meskipun begitu, bukan berarti cerita ini adalah cerita pembunuhan yang gampang ditebak. Karena bagaimanapun, saya dipusingkan juga saat memikirkan siapa pembunuhnya, sampai kemudian saya memutuskan untuk tidak lagi memikirkannya dan lebih memilih menikmati cerita dalam buku ini saja.

wpid-p_20150628_134441_df_1.jpg