Roberto Bolano

Dia memiliki buah dada yang besar, kaki yang ramping, dan bola mata berwarna biru. Begitulah aku mengingat dirinya. Aku tidak tahu mengapa aku tergila-gila kepadanya, tetapi itulah yang terjadi, dan mulanya, maksudku hari pertama, jam pertama, semua baik-baik saja; kemudian Clara kembali ke kota tempat tinggalnya, di Spanyol bagian Selatan (dia berlibur di Barcelona), dan segalanya mulai berjatuhan.

Suatu malam aku memimpikan sesosok malaikat: aku berjalan ke dalam ruangan yang sangat besar, sebuah bar yang kosong dan melihat malaikat itu duduk di pojokkan dengan siku bertelekan di atas meja dan secangkir kopi susu berada di hadapannya. Dia mencintaimu, katanya, menatapku, dan tatapannya, api di dalam matanya, melemparkanku melewati ruangan. Aku mulai berteriak panik, Pelayan, pelayan, kemudian mataku membuka dan aku selamat dari mimpi buruk itu. Pada malam yang lain aku tidak memimpikan siapa pun, tetapi aku bangun dengan air mata yang menggenang. Sementara hari-hari dengan mimpi-mimpi itu berlangsung, Clara dan aku saling berkirim surat. Surat-suratnya sangat singkat. Hi, bagaimana kabarmu, di sini hujan, aku mencintaimu, sampai jumpa. Mulanya, surat-surat itu membuatku ciut. Semua sudah berakhir, pikirku. Meskipun begitu, setelah membacanya lagi dengan lebih saksama, aku sampai pada kesimpulan bahwa tulisannya yang singkat itu didorong oleh hasratnya untuk menghindari kesalahan tata bahasa. Clara seorang yang angkuh. Dia tidak bisa menulis dengan baik, dan dia tidak ingin seorang pun tahu hal itu, tanpa bermaksud menyakitiku dengan bersikap dingin.

Dia berumur delapan belas tahun ketika itu. Dia keluar dari SMA dan belajar musik di Akademi Kejuruan, dan belajar melukis kepada pensiunan pelukis alam, tetapi dia sama sekali tidak tertarik pada musik, begitu juga dengan melukis: dia suka melukis, tetapi tidak memiliki hasrat untuk benar-benar menekuninya. Suatu hari, dia memberitahuku lewat suratnya, menyoal kebiasaannya berdandan, bahwa dia akan ikut kontes kecantikan. Balasanku, sebanyak tiga lembar halaman bolak-balik, adalah puji-pujian yang berlebih tentang kecantikannya, tatapan matanya yang lembut, kesempurnaan bentuk tubuhnya, dan yang sebagainya. Surat itu sangat buruk, dan ketika aku selesai, aku ragu-ragu akankah aku mengirimkannya atau tidak, tetapi pada akhirnya, aku mengirimkannya.

Beberapa minggu berlalu sebelum akhirnya aku mendengar kabar darinya. Aku bisa saja menghubunginya terlebih dahulu, tetapi aku tidak ingin mengganggunya, dan juga pada saat yang sama aku hancur. Clara menjadi juara kedua pada kontes tersebut dan dia tertekan selama satu minggu. Secara mengejutkan, dia mengirimiku telegram, yang berbunyi, “TEMPAT KEDUA. CUKUP. SIMPAN SURATMU. CUKUP. DATANG DAN TEMUI AKU.”

Satu minggu kemudian, aku naik kereta api menuju ke kotanya, kereta pertama pada hari itu. Sebelumnya—maksudku setelah menerima telegram darinya—kami berbicara melalui telepon, dan aku mendengar segala sesuatu tentang kontes kecantikan berkali-kali. Dan itu memberi dampak yang besar kepada Clara, tentunya. Jadi, aku mulai mengepak barang-barang dan, secepat yang aku bisa, mencari kereta, dan pada hari yang masih sangat pagi berikutnya, di sanalah aku, di sebuah kota yang asing. Aku sampai di apartemen Clara pukul 9.30, setelah minum secangkir kopi di stasiun dan merokok beberapa batang untuk membunuh waktu. Seorang perempuan gemuk dengan rambut acak-acakan membuka pintu, dan ketika aku mengatakan aku datang untuk menemui Clara, dia menatapku seolah-olah aku adalah domba yang akan disembelih. Selama beberapa menit (yang sungguh-sungguh terasa lama, dan, semakin aku memikirkannya, kemudian, aku sadar bahwa itu memang lama), aku duduk dan menunggu Clara di ruang tamu. Ruangan itu tampak nyaman, tidak secara khusus, terlalu berantakan tetapi nyaman dan terang. Ketika Clara muncul, dia tampak seperti dewi. Aku tahu hal itu terlalu bodoh untuk dipikirkan—dan terlalu bodoh untuk dikatakan—tetapi memang begitulah yang kulihat.

Hari-hari berikutnya berlalu dengan menyenangkan dan tidak menyenangkan. Kami banyak menonton film, hampir setiap hari; kami bercinta (aku adalah pria pertama yang tidur dengannya, yang tampaknya sebuah kecelakaan, tetapi pada akhirnya aku harus membayar mahal karena itu); kami berkeliling; aku bertemu dengan teman-teman Clara; kami datang ke dua pesta yang mengerikan; dan aku memintanya untuk datang dan tinggal bersamaku di Barcelona. Tentu, ketika itu aku sudah tahu apa yang akan ia jawab. Satu bulan kemudian, aku naik kereta malam ke Barcelona; aku ingat itu adalah perjalanan yang mengerikan.

Tidak lama setelah itu, Clara menjelaskan lewat suratnya, surat terpanjang yang pernah ia kirimkan untukku, mengapa dia tidak bisa tinggal bersamaku: aku telah membuatnya berada di posisi yang sulit (dengan menyarankan untuk tinggal bersama); begitulah isi suratnya. Setelah itu, kami berbicara tiga atau empat kali melalui telepon. Aku kira aku juga mengiriminya surat yang penuh cercaan dan pernyataan cinta. Satu kali, ketika aku berlibur ke Morocco, aku meneleponnya dari hotel tempatku menginap, di Algeciras, dan ketika itu kami berbicara secara formal. Pada akhirnya, dia berpikir percakapan itu formal. Atau aku yang memikirkannya.

Setahun kemudian, Clara menceritakan kepadaku tentang hari-harinya yang aku lewatkan. Dan, setahun setelah itu, dia dan beberapa temannya menceritakan kepadaku tentang kehidupannya lagi, mulai dari awal, atau saat hubungan kami mulai berantakan—sejak aku menjadi sosok yang tidak berarti, hal itu tidak membuat perbedaan pada mereka, atau kepadaku, sungguh, meskipun aku sulit mengakuinya. Seperti yang bisa diramalkan, tidak lama setelah pertunangan kami berakhir (aku tahu “pertunangan” terlalu berlebihan, tetapi itu adalah kata terbaik yang bisa aku temukan) Clara menikah, dan pria beruntung itu, cukup masuk akal, adalah salah seorang temannya yang pernah aku jumpai ketika aku datang ke kotanya untuk pertama kali.

Akan tetapi, sebelum itu, Clara mempunyai masalah psikologis: dia sering bermimpi tentang tikus ; pada malam hari dia sering mendengar mereka di kamar tidur, dan selama satu bulan, satu bulan menuju pernikahannya, dia tidur di sofa ruang tamu. Aku kira tikus-tikus sialan itu menghilang setelah ia menikah.

Begitulah. Clara telah menikah. Dan suaminya, suami tercintanya, mengejutkan semua orang, termasuk dirinya. Setelah satu atau dua tahun, aku tidak yakin, tepatnya—Clara memberitahuku, tetapi aku lupa—mereka bercerai. Mereka tidak berpisah secara baik-baik. Si lelaki berteriak, Clara berteriak, Clara menamparnya, si lelaki membalasnya dengan pukulan yang membuat rahang Clara bergeser. Terkadang, ketika aku sendirian dan tidak bisa tidur tetapi juga tidak ingin menyalakan lampu, aku berpikir tentang Clara, yang menjadi juara dua saat kontes kecantikan, dengan rahang menggantung, tidak bisa dikembalikan pada posisinya yang semula, berkendara ke rumah sakit terdekat dengan satu tangan di kemudi dan tangan lainnya menahan rahang. Seharusnya itu lucu, tetapi tidak bagiku.

Yang menurutku lucu adalah malam pernikahannya. Sehari sebelumnya, ia menjalani operasi untuk sembelit yang dideritanya, jadi aku rasa ia cukup gugup. Atau tidak. Aku tidak akan pernah bertanya kepadanya jika ia masih bercinta dengan suaminya. Aku berpikir mereka telah membicarakannya sebelum operasi. Omong-omong, apa itu penting? Semua yang kuceritakan ini lebih banyak bercerita tentangku daripada tentangnya.

Pada kasus apa pun, Clara bercerai dengan suaminya setahun atau dua tahun setelah mereka menikah, dan dia mulai kembali melanjutkan pendidikan. Dia tidak bisa melanjutkan ke universitas karena dia tidak tamat SMA, tetapi dia mencoba segala cara lain: potografi, melukis (aku tidak tahu mengapa, tetapi dia selalu berpikir dia bisa menjadi pelukis yang baik), musik, menulis, I.T, semuanya adalah kursus yang setara D1 yang ditujukan untuk meningkatkan peluangnya untuk mendapatkan pekerjaan. Dan meskipun Clara bahagia karena telah lepas dari suami yang memukulnya, jauh di lubuk hatinya, ia sengsara.

Tikus-tikus itu datang lagi, dan depresi, dan penyakit yang tidak diketahui. Selama dua atau tiga tahun, dia diperlakukan seperti bisul, sampai pada akhirnya sang dokter sadar bahwa tidak ada yang salah dengan penyakit tersebut, setidaknya bukan pada perutnya. Sekitar masa itu dia bertemu Luis, seorang eksekutif; mereka menjadi sepasang kekasih, dan kemudian dia membujuk Clara untuk belajar sesuatu yang berhubungan dengan administrasi bisnis. Menurut teman-teman Clara, akhirnya dia kembali menemukan kehidupannya. Untuk waktu yang lama, mereka tinggal bersama; Clara mendapat perkerjaan kantoran, firma hukum atau agensi yang sejenis itu—sebuah pekerjaan yang menyenangkan, kata Clara, tanpa sedikitpun mengandung ironi—dan nampaknya hidupnya telah kembali ke jalur yang seharusnya, untuk saat ini. Luis seorang pria yang lembut (dia tidak pernah memukul), dan beradab (dia, aku percaya, adalah satu dari dua juta orang Spanyol yang membeli karya-karya Mozart secara mencicil), dan penyabar (dia mendengarkan, dia mendengarkan Clara setiap malam dan pada akhir pekan). Clara tidak banyak bercerita tentang dirinya, tetapi dia tidak pernah lelah bercerita. Dia tidak lagi rewel soal kontes kecantikan lagi, meskipun dia mengulangi cerita itu lagi dan lagi; dan sekarang semua yang diceritakannnya adalah tentang masa-masa tertekan yang dialaminya, ketidakstabilan mentalnya, lukisan yang selalu ia ingin buat tetapi tak sekalipun ia kerjakan.

Aku tidak tahu mengapa mereka belum punya anak; mungkin mereka tidak memiliki waktu, meskipun menurut Clara Luis benci anak-anak. Dia menggunakan waktunya untuk belajar, dan mendengarkan musik (tidak hanya Mozart, tetapi juga composer yang lain), dan memotret, yang tidak pernah ia tunjukkan kepada orang lain. Dalam masa-masa yang tak jelas dan tak bergunanya itu, dia mempertahankan kebebasannya, mencoba untuk terus belajar.

Pada usia tiga puluh satu, dia tidur dengan pria sekantornya. Itu bukanlah apa-apa, bukan suatu masalah yang besar, paling tidak untuk mereka berdua, tetapi Clara membuat kesalahan dengan bercerita kepada Luis. Pertengkaran berlangsung mengerikan. Luis membanting kursi juga lukisan yang ia beli, mabuk-mabukan, dan tidak berbicara dengan Clara selama satu bulan. Menurut Clara, sejak hari itu semuanya tidak sama lagi, dalam usaha untuk kembali rukun, dalam perjalanan menuju pantai, sebuah perjalanan yang menyedihkan dan membosankan, perjalanan yang menjelaskan bahwa semuanya benar-benar berakhir.

Dan ketika ia menginjak usia tiga puluh dua, kehidupan seksualnya hampir tidak ada lagi. Beberapa saat sebelum usianya menjadi tiga puluh tiga, Luis memberitahunya bahwa dia masih mencintai dirinya, ia menghormatinya, dan tidak sekalipun lupa akan sosoknya, tetapi selang beberapa bulan berikutnya Luis bertemu dengan seseorang dari tempat kerjanya, seorang janda dan memiliki anak, seorang wanita yang manis, pengertian, dan dia berencana untuk tinggal dan hidup bersamanya.

Di mata orang lain, Clara terlihat sanggup menjalani apa yang menimpanya dengan baik (ketika pertama kali seseorang meninggalkannya). Akan tetapi, beberapa bulan berikutnya, dia tergelincir lagi ke depresi dan harus mengambil cuti dan menjalani perawatan, yang tidak terlalu banyak membantu. Pil yang diberikan kepadanya menghalangi tingkat seksualitasnya, meskipun tidak secara keseluruhan tetapi usahanya untuk tidur dengan orang lain berakhir tidak memuasakan, termasuk denganku. Dia kembali berbicara soal tikus; mereka tidak meninggalkannya sendirian. Ketika ia gugup, ia seringkali masuk ke kamar mandi. (Pada kali pertama kami tidur bersama, dia kencing sebanyak sepuluh kali). Dia menceritakan soal dirinya dengan menggunakan sudut pandang orang ketiga. Kenyataannya, sekali waktu dia pernah bercerita kepadaku bahwa ada tiga Clara dalam dirinya: seorang gadis kecil, seorang perempuan tua yang dijadikan budak oleh keluarganya, dan seorang gadis muda, Clara yang sesungguhnya, yang ingin pergi jauh dari kota selamanya, yang ingin melukis dan mengambil poto, dan berjalan-jalan, dan menetap. Selama beberapa hari pertama setelah kami kembail bersama, aku takut terjadi apa-apa terhadap dirinya. Suatu ketika, aku tidak berani keluar untuk berbelanja karena aku takut ketika pulang nanti aku akan mendapati dirinya telah mati, tetapi bersama berlalunya hari rasa takutku berangsur-angsur pudar, dan aku sadar (atau barangkali dengan senang hati meyakinkan diriku sendiri) Clara tidak akan merenggut kehidupannya sendiri; dia tidak akan terjun dari balkon apartemennya—dia tidak melakukan apa pun.

Tidak lama setelah itu, aku meninggalkan Clara, tetapi kali ini aku memutuskan untuk sesering mungkin menghubunginya sambil terus menjalin komunikasi dengan salah seorang temannya, yang bisa memberitahuku bagaimana hari-harinya (untuk saat ini dan seterusnya). Sampai kemudian aku tahu bahwa beberapa hal lebih baik tidak kuketahui, cerita-cerita yang hanya mengganggu pikiranku, kabar semacam itu selalu kuhindari.

Clara kembali bekerja (pil baru yang diminumnya sekarang memberi dampak yang mengagumkan pada penampilannya), dan tidak lama setelah itu, manajemen, barangkali untuk mengganti ketidakhadirannya yang lama, memindahkannya ke salah satu kantor cabang yang terletak di sisi lain Kota Andalusia, meskipun tidak terlalu jauh. Dia pun pindah dan mulai datang ke gym (pada usia tiga puluh empat, ia tidak lagi cantik. Aku sudah tahu hal itu sejak aku berumur tujuh belas tahun), dan mendapat teman-teman baru. Itulah bagaimana dia bertemu dengan Paco, yang juga bercerai, sama seperti dirinya.

Tidak lama berselang, mereka akhirnya menikah. Mulanya, Paco mengatakan kepada siapa pun yang dengan senang hati mau mendengarkan pendapatnya mengenai poto dan lukisan Clara. Dan Clara berpikir bahwa Paco adalah pria cerdas dan memiliki cita rasa yang tinggi. Seiring bergulirnya waktu, bagaimanapun, pada akhirnya Paco kehilangan ketertarikan pada upaya estetik Clara dan ingin memiliki seorang anak. Clara berusia tiga puluh lima dan pada awalnya dia tidak peduli dengan gagasan tersebut, tetapi pada akhirnya dia melakukannya juga, dia memiliki seorang anak. Menurut Clara, bayi itu memuaskan kerinduannya—itulah kata yang ia gunakan. Menurut temannya, dia menjadi semakin buruk, entah apa maksudnya.

Pada salah satu kesempatan, untuk alasan yang tidak sesuai dengan cerita ini, aku bermalam di kota tempat tinggal Clara. Aku menghubunginya dari kamar hotel, memberitahukan di mana aku berada, dan membuat janji temu dengannya keesokan harinya. Aku sudah bersiap-siap untuk bertemu dengannya malam itu, tetapi setelah pertemuan kami yang sebelumnya Clara menghormatiku, dan barangkali dengan alasan yang baik, sebagai musuh, jadi aku tidak memaksanya.

Aku hampir tidak mengenalinya. Dia semakin gemuk, dan memakai riasan pada wajahnya, tidak sebanyak ketika ia frustasi, yang mengejutkanku, aku belum tahu bahwa Clara tertarik dengan apa pun. Dan jika kau tidak tertarik dengan apa pun, bagaimana kau bisa frustasi? Senyumnya pun mengalami perubahan. Sebelumnya, senyumannya itu hangat dan sedikit bebal, senyuman yang dimiliki gadis ibukota, tetapi senyum itu menjadi berarti, senyum yang merugikan, dan mudah untuk membaca adanya kemarahan, marah, dan kecemburuan dibaliknya. Kita saling mencium pipi bagai orang idiot dan kemudian duduk; untuk beberapa waktu kita tidak tahu apa yang akan diperbincangkan. Akulah yang kemudian memecah kesunyian. Aku bertanya tentang kabar putranya; dan dia berkata bahwa putranya baik-baik saja, dan kemudian dia bertanya tentang putraku. Dia sehat, kataku. Kami kemudian menyadari bahwa, jika kami tidak melakukan sesuatu, pertemuan kali ini akan berakhir menyedihkan. Bagaimana penampilanku sekarang? Tanya Clara. Pertanyaan itu sama halnya dengan ia memintaku untuk menamparnya. Sebagaimana biasanya, aku menjawab secara otomatis. Aku ingat kami memesan kopi, kemudian kami berjalan sepanjang jalan di bawah bayang-bayang pohon yang rindang, yang langsung mengarah ke stasiun. Keretaku akan berangkat. Kami saling mengucapkan selamat tinggal di pintu stasiun, dan itulah kali terakhir aku melihatnya.

Kami, bagaimanapun, berbincang melalui telepon sebelum ia meninggal. Aku meneleponnya setiap tiga atau empat bulan. Aku telah belajar dari pengalaman untuk tidak bertanya hal-hal yang terlalu pribadi, (agak seperti membincangkan olah raga ketika mengobrol dengan orang asing di bar), jadi aku bertanya tentang keluarganya, yang pada akhirnya obrolan itu seabstark puisi Cubist, atau tentang sekolah putranya, pekerjaannya; dia masih bekerja di kantor yang sama dan selama itu ia pun telah tahu semua hal tentang rekan-rekannya termasuk kehidupan mereka, dan semua masalah eksekutif yang terjadi—rahasia itu diberitahukan kepadanya karena kecakapannya atau barangkali karena kesenangan yang berlebihan. Pada satu kesempatan, aku bertanya tentang suaminya, tetapi ia langsung diam. Kau telah melakukan yang terbaik, kataku. Mereka, katanya. Mereka siapa? Aku bertanya kepadanya. Mereka yang berkata sepertimu—kau, semua orang, katanya. Aku cepat-cepat mengganti subjek. Aku berkata bahwa aku kehabisan koin (aku tidak pernah meneleponnya dari rumahku, dan tidak akan pernah—aku selalu menghubunginya dari telepon umum), buru-buru mengucapkan selamat tinggal, dan menutupnya. Aku sadar aku tidak bisa beradu argumen dengan Clara; aku tidak sanggup mendengarkan penjelasannya yang tanpa ujung.

Beberapa malam yang lalu, dia memberitahu bahwa dia terkena kanker. Suaranya terdengar dingin seperti biasanya, seperti saat menceritakan kehidupannya yang payah, meletakkan tanda seru di tempat yang salah, dan terus berbicara saat seharusnya berhenti, bagian di mana seharusnya ia mengakhirinya dengan cepat. Aku ingat aku bertanya kepadanya apakah dia sudah memeriksakannya ke dokter, atau dia mendiagnosa kanker itu sendiri (atau dengan bantuan Paco). Tentu, katanya. Pada ujung sana, aku mendengar sesuatu seperti bunyi kuak. Dia sedang tertawa. Kami berbicara selintas tentang anak-anak, kemudian (tentunya dia merasa begitu kesepian atau bosan) dia memintaku untuk bercerita mengenai kehidupanku. Aku melakukan sesuatu pada hal itu, dan berkata aku akan meneleponnya minggu depan. Malamnya, aku tidak bisa tidur pulas. Aku bermimpi buruk setelah mimpi buruk yang lain; sesuatu terjadi kepadanya, tentunya, sesuatu itu telah terjadi sejak dua puluh tahun yang lalu, sedikit, sesuatu yang menyebalkan, yang penuh kemunafikan dan senyuman, tetapi dia tidak terkena kanker. Saat itu pukul lima pagi. Aku bangun dan berjalan ke Paseo Maritimo, dengan angin yang berembus di belakangku, yang terasa asing, karena biasanya angin bertiup dari arah laut, dan hampir tidak pernah berembus dari arah yang berlawanan. Aku tidak berhenti sampai aku menemukan telepon umum dekat dengan kafe terbesar di Paseo. Terasnya masih kosong, kursi-kursi dibalikkan ke atas meja. Agak jauh, lebih dekat ke arah pantai, seorang tuna wisma tengah tertidur di bangku, dengan lutut ditarik ke atas, dan sebentar-sebentar dia menggigil, sepertinya dia sedang bermimpi buruk.

Buku alamatku hanya berisi satu nomor Clara yang lain. Aku menghubungi nomor itu. Setelah waktu yang lama, suara seorang wanita menjawab. Aku menjelaskan siapa diriku, tetapi tiba-tiba aku tidak menemukan hal lain untuk dikatakan. Aku mengira dia menutup telepon, tetapi kemudian aku mendengar suara mancis dan suara embusan asap dari bibirnya. Apa kau masih di sana? Perempuan itu bertanya. Ya, kataku. Kau ingin berbicara dengan Clara? Ya, kataku, lagi. Apa dia sudah memberitahumu kalau dia terkena kanker? Ya. Baiklah, itu benar.

Tahun demi tahun sejak aku bertemu dengan Clara tiba-tiba berjatuhan di atasku, kehidupanku, sebagian besar dilakukan bersamanya. Aku tidak lagi mendengar apa yang perempuan itu katakan di ujung sana, ratusan mil jauhnya: aku berpikir aku mulai menangisi kehidupanku, seperti puisi-puisi Ruben Dario. Aku merogoh kantongku untuk mengambil rokok, dan mendengarkan detail ceritanya: dokter, operasi, masektomi, diskusi, perdebatan, pertimbangan, segala yang dilakukan Clara yang tidak kuketahui atau bisa kutolong, tidak saat ini. Tidak ada apa pun yang bisa dilakukan untuk menyelamatkan Clara sekarang.

Ketika aku menutup telepon, tuna wisma tersebut sedang berdiri sekitar lima kaki dariku. Aku tidak mendengar langkahnya saat berjalan ke arahku. Dia sangat tinggi, pakaiannya terlalu hangat untuk musim ini, dan dia mulai menatapku, dia terlihat ragu-ragu, atau khawatir aku mungkin akan melakukan gerakan yang tiba-tiba. Aku terlampau sedih. Aku tidak terkejut dengan yang ia lakukan, meski setelahnya, aku kembali berjalan melalui jalan memutar di pusat kota. Aku sadar bahwa, dengan melihat si tuna wisma, untuk sejenak aku bisa melupakan Clara, untuk pertama kalinya, dan hanya kali itu saja.

Kami berbicara melalui telepon cukup sering setelah itu. Selama beberapa minggu, aku meneleponnya dua kali. Percakapan kami singkat dan bodoh, dan tidak ada hal yang sungguh ingin aku katakan, jadi aku berbicara tentang apa pun, yang pertama kali melintas dalam otakku, sesuatu yang kuharap bisa membuatnya tersenyum. Suatu kali, aku menjadi sentimental dan mencoba untuk mengganti hari-hari yang telah berlalu, tetapi Clara sedang mengenakan jubah kebesarannya, dan segera setelah itu, aku mendapat sebuah pesan dan berhenti bernostalgia. Tanggal operasi telah keluar, aku meneleponnya semakin sering. Suatu kali, aku berbicara dengan putranya. Pada waktu yang lain berbicara dengan Paco. Mereka berdua tampaknya baik-baik saja, suara mereka terdengar baik, tidak segugup aku. Barangkali aku salah soal itu. Pastinya salah. Semua orang khawatir tentangku, kata Clara suatu siang. Aku mengira yang ia maksud adalah suami dan anaknya, tetapi “semua orang” berarti banyak orang, lebih banyak dari yang sanggup aku bayangkan, semua orang. Sehari sebelum ia berangkat ke rumah sakit, aku meneleponnya pada siang hari. Paco yang menjawab. Clara tidak ada. Tidak seorang pun yang melihat atau mendengarnya selama dua hari ini. Dari nada suara Paco, aku merasa bahwa dia menyangka kalau Clara sedang bersamaku. Aku langsung menjelaskan kepadanya, Dia tidak di sini, tetapi malam itu aku berharap sepenuh hati dia akan datang ke apartemenku. Aku menunggunya dengan lampu menyala, dan pada akhirnya aku tertidur di atas sofa, dan mememimpikan seorang gadis yang sangat cantik, bukan Clara; tinggi, ramping, dengan dada yang kecil, kaki yang jenjang, dan bola mata berwarna coklat, yang bukan dan tidak akan menjadi Clara, seorang perempuan yang dengan kehadirannya mampu menggantikan Clara, membuatnya terlihat menyedihkan, lenyap, empat puluh-sekian-tahun yang gemetaran.

Clara tidak datang ke apartemenku.

Hari berikutnya, aku menghubungi Paco. Dan dua hari setelahnya, aku menghubunginya lagi. Masih tidak ada tanda-tanda mengenai Clara. Pada kali ketiga aku menghubungi Paco, dia berbicara soal putranya dan mengeluhkan tindakan Clara. Setiap malam, aku terkejut saat menyadari dia bisa di mana pun, katanya. Dari nada suaranya dan perubahan topik oborolan, aku bisa menyimpulkan bahwa dia perlu sesuatu dariku, atau dari seseorang, siapa pun, sebagai bentuk persahabatan. Akan tetapi, aku tidak sedang berada dalam kondisi bisa menghiburnya.

 

*dialihbahasakan dari bahasa Spanyol ke bahasa Inggris oleh Chris Andrews; dan dialihbahasakan (secara seenaknya) dari bahasa Inggris ke bahasa Indonesia oleh Lihn.
*untuk membaca versi bahas inggris, sila klik di sini.