Kelesuan nampak pada wajah-wajah yang memaksakan diri untuk tersenyum. Hari masih pagi. Terlalu pagi. Jam kerja memaksa kami untuk datang ke pabrik pada jam seperti sekarang. Pukul 7 pagi. Sesaat setelah alarm dibunyikan, kami harus berjejer rapi di depan pintu pabrik untuk mendengarkan sesuatu yang sebentar kemudian dilupakan. Atasan memberikan arahan yang sama seperti hari kemarin, atau kemarinnya lagi, atau entah berapa lagi kemarin yang pastinya itu sangatlah lama; mengulang-ulang perkataan yang itu-itu juga, bahwa meski palu belum diketuk dan kepastian akan upah kami belum jelas, tetapi kami harus tetap bekerja sebagaimana biasanya.

Kami lelah. Bukan hanya lelah mendengar omongan-omongan semacam itu; janji-janji yang entah kapan ditepati, lebih daripada itu, kami—atau khususnya saya—mulai lelah menuntut hak kami. Jika tiba waktunya, dan kebetulan minggu itu kami mendapat jatah kerja malam, sepulang bekerja, kami akan berkumpul di depan warung yang ada di dekat pabrik. Sekitar pukul 9 pagi, kami turun ke jalan dan ketika hari beranjak sore, kami keluar dari barisan untuk pulang, beristirahat, karena pada malam harinya harus kembali bekerja. Rutinitas semacam itu bisa membuat kami gila! Akan tetapi, tidak ada hal lain lagi yang bisa kami lakukan. Ketidakpastian adanya jaminan pekerjaan di luar sana membuat kami hanya mampu memeluk lutut di pojokan, gemetar ketakutan, berharap Mesias akan datang menolong kami …

Ingatan tentang saat-saat itu datang ketika saya membaca Orang-Orang Terbungkam, karya Albert Camus. Sebagaimana judulnya, cerita pendek ini bercerita tentang orang-orang yang hanya bisa diam karena penderitaan mereka tak sanggup lagi disuarakan. Tersebutlah, Yvars, seorang suami dengan satu anak yang bekerja di sebuah pabrik pembuat tong di pelabuhan. Ia dan teman-temannya kemudian mogok kerja demi menuntut bayaran yang lebih tinggi. Namun, pada akhirnya mereka kalah setelah diberikan pilihan “Ambil atau keluar” oleh si pemilik perusahaan. Yang menarik—dan barangkali inilah alasan saya sangat menyukai kumpulan cerita pendek ini, lepas dari segala kekurangannya—adalah bagaimana Camus sanggup menciptakan suasana, detail dan segala hal yang mendukung ke arah itu dengan sangat baik. Kegelisahan, kekosongan emosi, dengan sangat jelas terbaca dari setiap tindakan tokoh-tokohnya. Pada Yvars, yang tampak kasihan kepada bosnya, alih-alih marah sebagaimana teman-temannya yang lain. Rasa kasihan yang tampak pada Yvars ini seolah mengatakan bahwa sesungguhnya ia tidak ingin melakukan ini, tetapi ia harus melakukannya. Ia terjebak pada pilihannya sendiri. Ia tidak berdaya. Dan hal itu ditegaskan dengan gambaran yang sederhana: … mengenali bau lama itu dan hatinya agak nyaman.

Perasaan semacam itu juga tergambar pada cerpen berjudul Batu yang Tumbuh. Bedanya, kegelisahan yang dirasakan D’Arrast adalah karena kesepian. Ia lelah menjadi orang yang tidak berguna, yang tidak memiliki teman. Ia ingin melakukan sesuatu untuk orang lain. Ia ingin terlihat; dianggap; diakui keberadaannya. Dan hal itulah yang kemudian mendorongnya melakukan berbagai kebaikan. Semata-mata untuk mengisi perasaannya yang kosong. Berapa banyak dari kita sering merasa seperti itu? Kosong? Merasa bahwa semua hal kita lakukan selama ini hanyalah kesia-siaan? Berharap ada seseorang yang menepuk punggung kita seraya mengucap “kerja bagus, sekarang marilah berpesta!” dengan tulus selepas kita melakukan sesuatu?

Berbanding terbalik dengan D’Arrast, Jonas, dalam cerpen Sang Pelukis, justru mengalami perasaan semacam itu karena teman-temannya, orang-orang yang lalu-lalang di sekelilingnya. Mereka selalu memuji dirinya, memaksanya untuk terus berkarya, menghasilkan sesuatu yang lebih dan lebih baik lagi. Akan tetapi di sisi lain, mereka juga selalu mengganggunya dengan terus menerus mengelilinginya, dan akan marah ketika diabaikan. Jonas selalu merasa teman-teman di sekelilingnya adalah orang-orang baik, yang menginginkan dirinya berhasil, dan karena itu, ia selalu melakukan apa yang mereka minta; mendengarkan dengan baik ketika mereka bicara. Popularitas telah menjeratnya, dan membuatnya lupa, bahwa segala yang berada di atas akan berganti di bawah. Dan ketika itu terjadi, ia akan sendirian. Meski pada kenyataannya, si istri dan seorang teman baiknya selalu berada di sisinya, namun kehadiran mereka sama sekali tak terasa. Ia terlampau sibuk mengejar dirinya yang dulu.

Sementara cerpen berjudul Tamu, Daru, si tokoh, mengalami pertentangan karena rasa bencinya kepada seseorang yang mencemplungkan diri ke dalam kejahatan. Ia sangat membenci orang-orang semacam itu, namun juga merasa kasihan ketika orang-orang semacam itu harus dihukum. Dan, rasa bencinya kian menguat kala si Tamu, yang merupakan tahanan yang harus diantarkan ke suatu tempat, tidak melarikan diri saat kesempatan itu ada. Ia tidak ingin melihat orang lain tersiksa, atau sekedar mengantarkan seseorang ke suatu tempat yang penuh siksaan, namun ia juga tidak bisa dengan seenaknya berkata, “pergilah! Sekarang kau bebas!”. Tidak. Karena tindakan semacam itu pun merupakan kesalahan. Sesungguhnya, ia hanya menginginkan kehidupan yang damai, yang tenang, tidak sekalipun berurusan dengan kejahatan. Akan tetapi, kewajibannya telah memaksanya berada dalam kondisi yang dibencinya itu.

Selain cerpen-cerpen yang sudah saya ceritakan, masih ada dua cerita pendek lainnya dalam kumpulan cerita pendek ini: Perempuan Tak Setia, yang bercerita tentang seorang istri yang baru menyadari bahwa ia tidak mencintai suaminya setelah dua puluh lima tahun menikah, dan Sang Pembelot, yang bercerita tentang seorang misionaris yang pada akhirnya malah mengingatkan diri pada kepercayaan yang dianut sebuah suku yang seharusnya ia luruskan. Lain daripada yang lainnya, yang menggunakan gaya naratif-realistik, Sang Pembelot ditulis dengan gaya monologue-interiur, semacam gumamam lirih. Gaya tulisan yang mengingatkan saya ke sebuah cerpen berjudul Akulah Pembunuh Munir karya Seno Gumira Ajidarma.

Secara keseluruhan, saya sangat menyukai kumpulan cerita pendek ini. Namun sangat disayangkan, cerita-cerita bagus di dalamnya tidak diimbangi dengan kualitas buku itu sendiri. Typo berserakan di mana-mana. Meskipun sesungguhnya terjemahannya tidak buruk-buruk amat, tetapi kesalahan ketik itu mau tidak mau membuat saya menghela napas lelah. Bayangkan saja begini, ketika sedang enak-enaknya mengunyah nasi, tiba-tiba kau menggigit sebuah kerikil yang ikut masuk bersama nasi itu di dalam mulutmu. Nah, rasanya hampir mirip seperti itu.

Iklan