oleh: Putri Dewayanti

wpid-20150508203221.jpg

Penulis: Jonas Jonasson
Penerjemah: Marcalais Fransisca
Penyunting: Ade Kumalasari
Tebal buku: 508 + viii
Penerbit: Bentang Pustaka
ISBN: 978-602-291-018-3
Rate: 5 / 5

blurb
Allan Karlsson hanya punya waktu satu jam sebelum pesta ulang tahunnya yang keseratus dimulai. Wali kota akan hadir. Pers akan meliput. Seluruh penghuni Rumah Lansia juga ikut merayakannya. Namun ternyata, justru yang berulang-tahunlah yang tidak berniat datang ke pesta itu.

Melompat lewat jendela kamarnya, Allan memutuskan untuk kabur. Dimulailah sebuah perjalanan luar biasa yang penuh dengan kegilaan. Siapa sangka, petualangannya itu menjadi pintu yang akan mengungkap kehidupan Allan sebelumnya. Sebuah kehidupan dimana-tanpa terduga-Allan memainkan peran kunci di balik berbagai peristiwa penting pada abad kedua puluh. Membantu menciptakan bom atom, berteman dengan presiden Amerika dan tiran Rusia, bahkan membuat pemimpin komunis berutang budi padanya! Siapa, sih, Allan sebenarnya?

~~~~~~~

Kisah Allan Karlsson dalam buku ini dibagi menjadi dua bagian, yaitu saat Allan berusia seratus tahun dan saat Allan masih muda.

Kisah pertama menceritakan petualangan Allan berusia seratus tahun yang melompat melalui jendela dan kabur dari rumah lansia. Petualangan Allan semakin menarik ketika ia membawa koper milik geng Never Again yang berisi uang 50 juta krona. Karena koper itu, Allan dikejar-kejar tiga orang geng Never Again. Dan karena Allan kabur dari rumah lansia, Allan dicari kepolisian.

Allan tidak berpetualang sendiri. Allan bertemu Julius Jonsson, Benny Ljunberg, dan Si Jelita Gunilla Bjorklund. Si Jelita ini punya anjing bernama “Buster” dan gajah bernama”Sonya”. Kalian tidak salah baca kok. Si Jelita ini memang pelihara gajah.

Berita simpang siur hilangnya kakek panjang umur dan keterkaitannya dengan Never Again hangat diperbincangkan.Terlebih lagi terendus oleh anjing pelacak adanya mayat di sekitar pabrik baja, tapi tidak pernah ditemukan. Semakin ditelusuri membuat kepolisian semakin bingung, seolah-olah dipermainkan oleh kasus.

Kisah kedua menceritakan masa muda Allan yang berprofesi sebagai pembuat bom. Langkanya profesi itu membuat Allan keliling dunia. Allan diminta beberapa negara yang terlibat perang dunia kedua untuk membuat bom sekaligus meledakkannya. Allan bertemu pemimpin-pemimpin hebat diabad kedua puluh. Allan pernah makan malam dengan Jenderal Franco di Spanyol, minum vodka bersama wakil presiden AS, Harry S. Truman, mendengar Stalin Si Tiran Rusia menyanyi, hingga menyelamatkan istri pemimpin komunis Mao Tse Tung yang akhirnya Mao Tse Tung memberi hadiah Allan berlibur ke Bali, Indonesia.

~~~~~~~

Menurut saya, Allan Karlsson adalah kakek yang keterlaluan spontanitasnya. Semua yang dilakukannya terjadi secara spontan, tanpa pikir lama-lama. Seorang kakek usia seratus tahun kabur dari rumah lansia itu hebat. Hebat dari mana? Dari pikirannya yang out of the box dan terealisasi. Allan tak tahu kemana ia pergi sampai ia membaca jadwal kedatangan bis dan mengecek uang yang dibawanya. Ia juga tidak ragu membawa koper milik Never Again, meskipun ia tidak tahu apa isinya dan seberapa penting isi koper itu.

Ada bagian lucu dari petualangan Kakek Allan. Saat Bolt, anggota Never Again menemukan Allan dan Julius di Stasiun Byringe. Kepala Bolt dihantam papan hingga pingsan oleh Julius. Agar tidak menjadi ancaman, Bolt sengaja disimpan di dalam freezer dan tidak sengaja dilupakan hingga Bolt mati beku. Allan memutuskan untuk mengemas mayat Bolt dalam peti milik pabrik baja yang seharusnya berisi tabung baja siap kirim ke Addis Ababa.

Saya heran kemudian tertawa saat baca bagian itu. Allan tidak pernah merencanakan matang-matang. Segalanya terlintas saat ia memperhatikan sekeliling. Kemudian yang ada di pikirannya hanya “ya” atau “tidak”. Urusan risiko mayat ditemukan oleh siapapun, ia tidak peduli. Itu urusan nanti.

Oleh karena itu, Jonas Jonasson memberi kalimat pembuka buku ini:

“Segala sesuatu berjalan seperti apa adanya, dan apapun yang akan terjadi, pasti terjadi.”

Apa yang dilakukan Allan merupakan kebalikan dari banyak orang. Banyak orang seringkali merencanakan sesuatu, tapi takut melakukan. Kalau aku begini, nanti begitu. Kalau aku tidak begiu, nanti jadinya begini. Terlalu banyak pertimbangan, terlalu takut ambil risiko hingga tidak terealisasi. Dijalani saja dulu, sambil jalan mari dipikirkan rencana selanjutnya. Kata orang jawa, “Dipikir karo mlaku ae.”

Cerita yang kedua juga menceritakan sisi spontanitas Allan, tetapi lebih mengedepankan unsur sejarah yang cukup satir dibaca. Allan bertemu orang-orang hebat yang terlibat politik perang dunia. Allan bekerja sebagai ahli pembuat bom yang kemampuannya sangat dibutuhkan saat perang dunia. Meskipun Allan pernah membantu membuat bom negara komunis maupun kapitalis, Allan tidak pernah terlibat di politik. Allan tidak suka politik apapun. Ia menegaskan bahwa dirinya hanya pembuat bom. Allan menyebut perumpaan politik mirip dengan balas dendam.

“Balas dendam itu seperti politik, satu hal akan diikuti hal lain sehingga yang buruk menjadi lebih buruk dan yang lebih buruk akan menjadi paling buruk.” (hal 89)

Diriku merinding saat baca itu.

Jonas Jonasson juga menyindir bahwa di dunia politik memang kejam. Sekali membuat kesalahan, fatal akibatnya. Hal ini dialami pada Allan saat dia membaca puisi milik Verner von Heidenstam yang rupanya penyair favorit Hitler. Mengetahui itu, Stalin naik pitam, terlebih lagi setelah mendengar Allan teman baik Jendral Franco dan sempat berbicara dengan Presiden AS Churcill. Akhirnya Allan dipenjara. Yap, spontanitas Allan tidak seluruh berujung dengan baik.

Jonas Jonasson juga secara gamblang menyindir Indonesiasebagai negara yang segala sesuatunya bisa didapat dengan uang, seperti membuat SIM palsu, jalan mulus di dunia politik. Ironi. Miris.

“Di Indonesia semuanya bisa dijual sehingga siapa saja yang punya uang bisa mendapatkan apa pun yang mereka inginkan.” (hal 359)

Bahkan di dunia pesawat terbang pun juga terjadi suap menyuap.

“Indonesia adalah negara dimana segalanya mungkin.” (hal 489)

Pernyataan itu dikatakan Allan setelah ia melakukan lobi pendaratan pesawat ilegal dengan staf lalu lintas udara Bandara Udara Bali. Yap, dan Allan melobi dengan menyuap dua ratus juta dolar.

~~~~~~~

Secara keseluruhan buku ini membuat saya takjub. Isinya begitu berbobot meskipun covernya sederhana. Buku ini cocok dibaca semua umur dan pecinta humor yang tidak sekadar humor.

Karena buku ini menceritakan humor yang satir dan banyak melibatkan unsur sejarah, pembaca sebaiknya tidak menelanmentah-mentah apa yang ditulis di sini. Ingat, Allan hanya tokoh fiksi yang diselipkan di unsur sejarah. Tidak ada kenyataan bahwa Stalin makan malam dengan Allan. Atau Wakil Presiden Harry S. Truman mendapat info Presiden Roosevelt meninggal saat dirinya asyik minum vodka dengan Allan. Jadi jika Kalian belum paham dengan maksud yang ditulis, ada baiknya Kalian menggali info lebih.

Saya beri rating 5 dari 5 bintang. Setelah membaca buku ini saya jadi paham siapa-siapa yang komunis, kapitalis, atau sosialis. Ya, meskipun itu hanya sedikit (Kalau banyak, jadi buku sejarah! Dih). Setidaknya saya kenal nama Harry S. Truman, Mao Tse Tung, dan tokoh lainnya.

Saya juga suka dengan karakter Allan yang selalu bertindak spontanitas. Segala yang tidak teratur ternyata mendebarkan. Meskipun di satu sisi, terkadang itu membuatnya menanggung risiko.Buku ini berbau konyol berasa cerdas.Ya, itu kesimpulan terbaik saya terhadap buku ini.

Anyway, yang belum baca,monggo dibaca bukunya. Masih tersedia banyak di toko buku. Bagi yang tidak suka, ada filmnya kok. Sudah rilis tahun 2014.

-end-

*ulasan ini merupakan hasil salin-tempel dari blog Putri Dewayanti, dengan perubahan seperlunya. Tentu, setelah saya mendapat izin dari si penulis.

Iklan